Iek Adassutisna

Wednesday, November 6, 2013

SANG HYANG BRAMA

SANG HYANG BRAMA
Sang Hyang Brama adalah Dewa api (brama berarti api), putra Hyang Guru. Ia bersemayam di Deksina. Karena kesaktiannya Hyang Brama dapat membasmi segala keburukan yang menjelekkan dunia ini dengan apinya. Ketika Dewa ini dilahirkan besar pengaruhnya terhadap dunia mengeluarkan api hingga menjulang ke angkasa. Setelah dewasa, ia beristrikan Dewi Saraswati, putri Hyang Pancaweda yang terkenal karena sangat cantiknya.
Dewa ini pernah bertakhta sebagai raja di Gilingwesi setewasnya Prabu Watugunung. Dewa yang bertakhta sebagai raja di dunia disebut ngejawantah, menampakkan diri.
Suatu ketika Hyang Brama menyalahi adat-istiadat Dewa karena memihak pada Betari Durga dan bermaksud untuk memusnakan keluarga Pendawa. Kehendak Betara Brama dimufakati oleh Durga. Sampai sampai juga putri Hyang Brama, Dewi Dresanala yang diperistri oleh Arjuna, diceraikan oleh Hyang Brama.
Kehendak Hyang Brama untuk memusnakan keluarga Pendawa terkabul. Malahan Hyang Brama dapat dikalahkan oleh anak Arjuna yang bernama Wisanggeni. Hyang Brama ditangkap oleh Wisanggeni dan diserahkan kepada Hyang Guru. Setibanya di hadapan Guru, Betara Brama menjadi sadar akan kekeliruannya. Ia diampuni oleh Hyang Guru dan kembali ke tempat kediaman para Dewa Kahyangan.
Menurut lakon ini meski Dewa sekalipun, kalau bersalah, bisa kalahkan oleh manusia biasa.
Sang Hyang Brama merupakan pangkal yang menurunkan Pendawa dan ia berbesan dengan Hyang Wisnu.
Sang Hyang Brama bermata kedondongan. Berhidung sembada (serba cukup) dan berbibir rapat.
Ia bermahkota, menandakan bahwa ia Dewa yang berkuasa. Ia tidak menyelipkan keris secara yang biasa dilakukan orang, melainkan diselipkannya di depan, oleh karena ia memakai haju yang menutupi bagian belakang badannya. Memakai keris semacam itu disebut yang berarti syak wasangka selalu, sehingga setiap waktu ada bahaya keris itu mudah dihunus. Memakai keris secara demikian dilarang ole penjaga kerajaan, oleh karena si pemakainya dianggap mencuri.
Menurut riwayat ini nampak, bahwa Dewa sekalipun bisa mengalami masa kalahnya dalam menghadapi manusia biasa, ini menandakan bahwa kebenaranlah yang selalu menang atas perbuatan salah manusia. Selagi Hyang Guru sebagai Dewa yang tertinggi bisa mengalami kekalahannya juga terhadap manunia biasa, hal itu disebabkan kerena salahnya perbuatan: Hyang Guru.

Sang Hyang Nurrasa

  Setelah lama berkuasa di Kahyangan Malwadewa, Sanghyang Nurcahya yang telah dikarunia seorang putra dengan Dewi Nurrini (Dewi Mahamuni), selanjutnya menyerahkan tahta Malwadewa kepada putranya yang telah beranjak dewasa, Sanghyang Nurrasa.
Selain menyerahkan kahyangan Malwadewa, Sanghyang Nurcahya juga menyerahkan seluruh kesaktian pusakanya, antara lain Cupu Manik Astagina, Lata Maosadi (Pohon Rewan / Pohon Kehidupan, Oyod Mimang, Kalpataru), dan Sesotya Retna Dumillah. Selanjutnya Sanghyang Nurcahya menciptakan Pustaka Darya, yang adalah serat (kitab) yang menyatu dalam budi. Serat (kitab) tersebut berwujud suara tanpa sastra (tanpa tulis). Membacanya dengan "cipta sasmita" (kemampuan batin). Berisi kisah perjalanan Sang Hyang Nurcahya sendiri. Setelah menyerahkan semuanya kepada Sanghyang Nurrasa, Sanghyang Nurcahya meraga menjadi satu dengan Sanghyang Nurrasa.

Dalam kisahnya Sanghyang Nurrasa menikah dengan Dewi Sarwati putri Prabu Rawangin raja jin Pulau Darma yang tidak lain adalah kakeknya. Dari perkawinannya itu, mereka dikarunia beberapa anak yang terlahir "Sotan" (suara yang samar-samar tanpa wujud). Masing-masing hanya terdengar suaranya saja. Suara-suara itu bersahut-sahutan seperti berebut siapa yang lebih tua.

Sanghyang Nurrasa kemudian mengheningkan cipta, masuk ke alam gaib. Dengan kesaktiannya, ia bisa melihat wujud putra-putranya itu. Dua suara yang lebih besar berada di depan, dan yang satu bersuara kecil berada di belakang. Keduanya bisa terlihat setelah disiram dengan Tirtamarta Kamandalu. Sanghyang Nurrasa akhirnya menetapkan, bahwa yang di belakang lebih tua daripada yang di depan.

Putra bersuara kecil yang ada di belakang itu diberi nama Sanghyang Darmajaka, sementara dua putra yang bersuara besar yang ada di depan, kembar diberi nama Sanghyang Wenang dan Sanghyang Wening. Peristiwa tersebut diceritakan terjadi pada tahun 2900 Matahari, atau tahun 2989 Bulan.

Beberapa tahun kemudian, Dewi Sarwati melahirkan seorang putra lagi, kali ini berwujud 'akyan' (jasad halus). Putra ketiga tersebut diberi nama Sanghyang Taya.

Setelah putra-putranya dewasa, Sanghyang Nurrasa mewariskan semua ilmu kesaktiannya kepada mereka. Namun diantara mereka hanya Sanghyang Wenang yang paling berbakat sehingga terpilih sebagai ahli waris Kahyangan Malwadewa. Sanghyang Nurrasa kemudian turun takhta dan menyatu ke dalam diri Sanghyang Wenang.

Sang Hyang Tunggal

Sang Hyang Tunggal menikah dengan Dewi Darmani putri Sang Hyang Darmajaka (Darmakaya) raja Kahyangan Keling (negeri Selong) yang tidak lain adalah kakak kandung Sang Hyang Wenang sendiri. Lalu Sang Hyang Tunggal dinobatkan menjadi raja di Kahyangan Keling menggantikan Sang Hyang Darmajaka. Dari perkawinannya dengan Dewi Darmani, Sang Hyang Tunggal dikaruniai beberapa orang anak dalam wujud 'akyan' (jasad halus) mereka adalah : Sang Hyang Rudra / Dewa Esa, Sang Hyang Dewanjali dan Sang Hyang Darmastuti.

Sang Hyang Tunggal yang gemar membaca Serat (kitab) Pustaka Darya yang berwujud suara tanpa sastra (tanpa tulis) itu menjadi tertarik dengan kisah perjalanan Sang Hyang Nurcahya (kakek buyutnya). Ia memutuskan untuk meniru sang kakek buyut, yaitu bertapa untuk mencapai cita-citanya menjadi penguasa di tiga lapisan dunia (Tribuana / Triloka). Kahyangan Keling pun ia serahkan kepada putera sulungnya yaitu Sang Hyang Rudra.

Sang Hyang Tunggal kemudian bertapa tidur di atas sebuah Batu Datar. Begitu heningnya ia bertapa, ketika terbangun ia telah berada di sebuah istana indah di dasar samudera. Tanpa sadar sebenarnya Sang Hyang Tunggal telah diculik oleh raja siluman kepiting bernama Sang Hyang Rekatama (Sang Hyang Yuyut) untuk dinikahkan dengan putrinya. Putri Sang Hyang Rekatama yang bernama Dewi Wirandi (Dewi Rekatawati) mengaku pernah bertemu dengan Sang Hyang Tunggal di alam mimpi, dan jatuh hati kepadanya. Karena itu adalah jalan untuk mewujudkan cita-citanya, maka Sang Hyang Tunggal menerima lamaran tersebut.

Sang Hyang Tunggal lalu membawa Dewi Wirandi (Dewi Rekatawati) ke istana Jonggring Salaka (Kahyangan Suralaya) di gunung Tengguru (Himalaya) untuk mendapat restu dari ayahnya. Kemudian Sang Hyang Wenang menyerahkan Kahyangan Suralaya kepada Sang Hyang Tunggal. Dan lalu Sang yang Wenang mokswa, tinggal di swargaloka awang-uwung kumitir.
Sang Hyang Tunggal kini bersemayam di Kahyangan Suralaya bersama kedua istrinya, Dewi Darmani dan Dewi Wirandi. Saat itu Kahyangan Suralaya masih belum berpenghuni lain selain mereka bertiga.

Pada suatu ketika, Dewi Wirandi yang hamil besar itu melahirkan, namun yang dilahirkan oleh sang dewi bukanlah sesosok bayi, tapi ia melahirkan sebutir telur.
Sang Hyang Tunggal bermujasmedi mengheningkan cipta masuk ke Swargaloka Awang Uwung Kumitir. Dihadapan Sang Hyang Wenang, ia menceritakan perihal telur yang dilahirkan oleh istrinya.
Sang Hyang Wenang memberi petunjuk dan memberikan air kehidupan ‘Tirta Kamandalu’ kepada Sang Hyang Tunggal.
Sesuai petunjuk ayahnya, telur itu ia puja hingga meretak dan pecah berserakan menjadi tiga bagian, kulit, putih dan merah telur. Sang Hyang Tunggal menyiramkan ‘air kehidupan’ Tirta Kamandalu secara bersamaan kepada bagian telur yang tercerai berai. Secara ajaib, kulit, putih dan merah telur itu berubah menjadi tiga sosok bayi. Sang Hyang Tunggal memberi nama masing-masing bayi yang tercipta, dari kulit telur diberi nama Sang Hyang Antaga, sedangkan bayi yang tercipta dari putih telur diberi nama Sang Hyang Ismaya, dan bayi yang tercipta dari merah telur diberi nama Sang Hyang Manikmaya. Kelak ketiga putra Sang Hyang Tunggal ini akan mempunyai peran penting dalam meramaikan Jagat Pramuditya (wayang).

Sang Hyang Wenang

 Sanghyang Wenang juga gemar bertapa dan olah rasa, sama seperti kakeknya dulu, Sanghyang Nurcahya. Segala macam tempat wingit ia datangi. Segala macam jenis tapa brata ia jalankan. Ia kemudian membangun istana yang melayang di udara, tepatnya di atas puncak Gunung Tunggal, sebuah gunung tertinggi di Pulau Malwadewa. Setelah 300 tahun bertakhta, ia akhirnya dipertuhankan oleh seluruh jin di pulau tersebut.

Pada saat itu hidup seorang raja bangsa manusia bernama Prabu Hari dari kerajaan Keling di Jambudwipa. Ia marah mendengar ulah Sanghyang Wenang yang mengaku Tuhan tersebut. Tanpa membawa pasukan ia datang menggempur Kahyangan Pulau Malwadewa seorang diri. Perang adu kesaktian pun terjadi. Dalam pertempuran itu Prabu Hari akhirnya mengakui keunggulan Sanghyang Wenang.

Prabu Hari kemudian mempersembahkan putrinya yang bernama Dewi Sahoti sebagai istri Sanghyang Wenang. Dari perkawinan itu lahir seorang putra berwujud akyan, yang diliputi cahaya merah, kuning, hitam, dan putih. Setelah dimandikan dengan Tirtamarta Kamandalu, keempat cahaya dalam tubuh bayi itu bersatu. Bayi tersebut kemudian menjadi sosok berbadan rohani yang memancarkan cahaya. Putra pertama Sanghyang Wenang itu diberi nama Sanghyang Tunggal. Peristiwa ini terjadi pada tahun 3500 Matahari.

Beberapa waktu kemudian Dewi Sahoti melahirkan bayi kembar dampit, laki-laki-perempuan, yang keduanya juga berwujud akyan, dengan diliputi cahaya. Keduanya kemudian dimandikan dengan Tirtamarta Kamandalu dan diberi nama oleh sang ayah. Yang laki-laki diberi nama Sanghyang Hening, sementara yang perempuan diberi nama Dewi Suyati.

Sementara itu, perjalanan kehidupan kakak kandung Sanghyang Wenang, yaitu Sanghyang Darmajaka telah menjadi raja di negeri Selong. Sanghyang Darmajaka mempunyai istri bernama Dewi Sikandi, putri Prabu Sikanda dari Kerajaan Selakandi. Kerajaan ini terletak di Tanah Srilanka.

Dari perkawinan tersebut Sanghyang Darmajaka mendapatkan lima orang anak, yaitu Dewi Darmani, Sanghyang Darmana, Sanghyang Triyarta, Sanghyang Caturkaneka, dan Sanghyang Pancaresi.

Sanghyang Darmajaka kemudian berbesan dengan Sanghyang Wenang, yaitu melalui pernikahan Dewi Darmani dan Sanghyang Tunggal. Sanghyang Tunggal sendiri kemudian menjadi raja Keling, menggantikan sang kakek, Prabu Hari.

Monday, November 4, 2013

Euis Setiawati - Ayun ayunan With PGH 2

http://www.youtube.com/v/aBjUFWZvuZY?autohide=1&version=3&feature=share&autohide=1&attribution_tag=VPI6rlWgimSIboqX1Jzx4A&showinfo=1&autoplay=1

Sunday, November 3, 2013

Euis Setiawati - Ayun ayunan With PGH 2

adassutisna Collection

http://www.youtube.com/v/aBjUFWZvuZY?autohide=1&version=3&feature=share&autohide=1&attribution_tag=VPI6rlWgimSIboqX1Jzx4A&showinfo=1&autoplay=1

Thursday, October 31, 2013

Upacara Adat Perpisahan Sunda



Pun sapun ka Maha Agung,
Ka Allah Illahi Robbi
Ya Allah pamuntangan beurang,
Ya Robbi pamantengan peuting
Sajatining pati hirup
Sajatining kalanggengan
Sumeja neda paralun, paralun kabudeur awun
Ka rumuhun ka karuhun
Seja amit kami mipit
Seja menta kami ngala
Ngunder tineung panasaran,
Mapay beja mangsa lawas
Tapak lacak na wiyata
Di lemah sarakan………..*)
(dieusi ku ngaran tempat, lembur, wewengkon)
Ngajungjung lungguhna elmu, komarana atikan
Ti mendi pipasinieun, ti mana picaritaeun
Urang nyoreang ka tukang, urang jujut hiji-hiji
Ngarah puguh nya pitutur, ti bihari ka kiwari
Agung…agung………
Lengser
Jep angin eureun heula, di dieu rek upacara
Jep sora repeh heula, aya nu rek cumarita
Tuh umbul-umbul, mani melengkung
Tah tanggara, tanda ngiberan
Nu ditunggu-tunggu rawuh
Nu dianti-anti sumping
Mangga urang sasarengan, mapag nu bade amitan
Cunduk waktu numbu catur, nyungsi pasini bihari
Subaya anu ti heula, munggaran jisim wawarti
Seja nyungsi nya pangarti, sangkan ilang nya katuna
Gending/Narasi marengan asupna rombongan gulang gulang ,pager ayu, sapasang wawakil siswa pinunjul kahiji dipayungan ku juru payung, nu ngagotong jampana/kurung manuk dieusi sapasang manuk japati, disatukangeunana dalapan  pasang siswa pinunjul, dituturkeun ku penari maktal anu mawa gugunungan.
Narator
Geura lagukeun kidung liwung nu panungtung
Geura hariringkeun kawih asih tina ati
Sugan teteg ieu lengkah nu rek lunta
Sugan jembar ieu lengkah rek paturay
Mun isuk balebat nyingray di wetan
Srangenge sumirat deui di langit …………………..*)
Boa saukur jadi kalangkang
Kalangkang dina eunteung panineungan urang
Mungguh ari waktu
Kapan jamparing anu melesat
Nyeak ninggalkeun patk demi patok lalakon
Raca tapakna jadi pilar-pilar kakelar
Tilu taun geuning geus kalaring, sempal guyon gogonjakan
Silih asih ku pangarti
Silih asuh ku kaweruh
Ayeuna nincak mangsana urang paturay pajauh
Pasini urang tepi ka dieu
Lalakon urang tepi ka poe ieu
Tali batin urang cangreud dina ati
Baris nganteng jadi gurat panineungan
Di dieu aya bagja jeung cimata
Di dieu aya nu jajap jeung nu dijajapkeun
Awor dina ringkang pileuleuyan
Nu dikantun wuwuh ngungun
Nanging bagja binarung bagja
Ngungun soteh reh waktosna kedah pisah
Nanging bagja sabab sirung baris renung
Baris mangkak jadi wawangi lemah cai
Gending simpe
Kapala sakola dihaturanan ka panggung. Sapasang wawakil siswa pinunjul sungkem, nu sejenna milu diuk tarungkul disatukangeunana.
Gending ngeusian narasi
Narator
 Bral, geura tandang neang kahayang
Nyukcruk elmu nyungsi harti
Muga jembar ku panalar
Mugi sugih ku pangarti
Bral, geura leumpang anaking
Sing jucung ngudag kahayang
Hidep dijajap du’a jeung cimata
Dijajap du’a jeung cimata
Bral geura miang anaking
Hidep dijurung lumaku
Lumampah nyorang lalakon
Nyaba ka jaganing jaga
Neang hirup nu rahayu
Sabada acara sungkem, kapala sakola masrahkeun ijazah ka wawakil siswa, sasalaman ngawilujengkeun, tuluy ngalepaskeun japati sajodo tina jampana/kurung, minangka simbul paturay jeung pangjurung ka parasiswa. Barisan gugunungan malik-malikeun gugunungan masing-masing, luyu jeung gending, tepi ka kabaca aksara: PILEULEUYAN…..Prosesi rengse pamaen ka luar pentas.
Duh ibu punjungeun kalbu, nya Bapa pupujan rasa
Ninggang mangsana ayeuna, seja miang ngudar lengkah
Naratas jalan kabagjan, neda suka muga mulya
Anaking puputon ati, estu ewuh liwat saking
Narah pajauh jeung hidep, tapi geus kitu kuduna
Miang neang pangharepan, mapay raratan kabagjan
Ujang Nyai simpay rasa, regepkeun piwulang Bapa
Nu jujur mangka rahayu, nu sabar pinanggih mulya
Lamun kasasar nya lampah, badan anu katempuhan
Anaking jungjunan kalbu, Ibu jeung bapa tamada
Teu bisa mekelan inya, ngan titip ieu pusaka
Muga mangpaat jagana, ijasah tanda perceka
Narator
Run turun ti kahyangan, lalayang salaka domas
Dicangking ku Nyi Pohaci, disandang ku Sang dewata
Run turun ti kaanggangan, kahayang jeung cita-cita
Dipatri ku sanubari, dipelak jeroning sukma
Teu burung cunduk waktuna,
Lalayang enggeus kabandang
Rep nyerep kana ati sanubari,
Cik ngancik elmu teh kasakten diri
Prak geura mencar nyiar luang, miang deui nyungsi deui
Sabab elmu taya tungtung, nyaangan sapanjang jalan
Kapala Sakola sasalaman ngawilujengkeun, tuluy kaluar ti panggung dijajap ku Juru Payung
Narator
Pileuleuyan, pileuleuyan, asal urang babarengan
Nyukcruk elmu nyuprih harti, ayeuna baris paturay
Nu kantun mulus rahayu, nu miang pinanggih bagja.
(pager ayu nyawer wawakil siswa, prosesi kaluar ti panggung)
Rampak sekar
Balebat
Bral geura miang, bral mangka tandang
Bral muga mekar, bral masing nanjung
Narator
Bral geura miang, dijajap rewu pangdu’a
Dirungrum pangjurung laku, mugia mulus rahayu
Mugia pinanggih bagja, bral geura miang
Geura tandang makalangan