Iek Adassutisna

Monday, December 16, 2013

Somantri Ngenger - Adhi Konthea Sunarya ( Putu Giriharja 2 )

Adassutisna Collection

 Bag 1. http://www.youtube.com/watch?v=poeEKoqW9m8
Bag 2. http://www.youtube.com/watch?v=BzxkpFaDxWE
Bag 3. http://www.youtube.com/watch?v=Z7ahiHq1I8Y
Bag 4. http://www.youtube.com/watch?v=AzbWIx7cZrk
Bag 5. http://www.youtube.com/watch?v=hX9igjWtWuU

Batara kala ( Ruwatan ) - Deden Kosasih sunarya @ Live Jakarta

Adassutisna Collection
 
Bag 1. http://www.youtube.com/watch?v=ZADTYkkDn4Q
Bag 2. http://www.youtube.com/watch?v=jesJ0zixf1s
Bag 3. http://www.youtube.com/watch?v=n0czuS3dakk
Bag 4. http://www.youtube.com/watch?v=cJZrirED5rg
Bag 5. http://www.youtube.com/watch?v=vi9AU9E-CSg
Bag 6. http://www.youtube.com/watch?v=GXzwr1Qv_dM
Bag 7. http://www.youtube.com/watch?v=WgxKyfvLf3k
Bag 8. http://www.youtube.com/watch?v=0jedvFMHs1Y

Thursday, December 5, 2013

Budak Buncir - Deden Kosasih sunarya

adassutisna Collection
mangga kantun Download.
http://www.mediafire.com/listen/ox44m8ikztdpt4j/Budak%20Buncir%201.mp3
http://www.mediafire.com/listen/f4fv3hrpae84o1o/Budak%20Buncir%202.mp3
http://www.mediafire.com/listen/i3889sk272ccjdu/Budak%20Buncir%203.mp3
http://www.mediafire.com/listen/36zwdg013b12i4l/Budak%20Buncir%204.mp3
http://www.mediafire.com/listen/2p2jk1mbobuqn17/Budak%20Buncir%205.mp3
http://www.mediafire.com/listen/vw9b9wouu822l72/Budak%20Buncir%206.mp3
http://www.mediafire.com/listen/hoeeyv8hbqpzlmv/Budak%20Buncir%207.mp3
http://www.mediafire.com/listen/4uut8ybtqxcwpfi/Budak%20Buncir%208.mp3
http://www.mediafire.com/listen/7stz11411rt0ycu/Budak%20Buncir%209.mp3

Wednesday, November 6, 2013

Batara-Batari Wayang

 Batara-Batari (Dewa-Dewi) dalam pewayangan merupakan Dewa-Dewi yang muncul dalam mitologi agama Hindu di India, dan diadaptasi oleh budaya Jawa. Dewa dalam budaya Jawa disebut sebagai Batara (pria) atau Batari (perempuan). Menurut cerita R.A. Kosasih, kehidupan berawal dari Adam/Sang Hyang Adhama dan Hawa, kemudian dia menurunkan Nabi Sis, lalu menurunkan Anwar yang nantinya menurunkan para Hyang. Lalu menurunkan Hyang Nur Cahya, bertempat tinggal di puncak gunung Mahameru. Hyang Nur Cahya menurunkan Nurasa, lalu menurunkan Hyang Wenang, lalu Hyang Tunggal dan berikutnya terciptalah dewata.


Genealogi Batara awal

  1. Sang Hyang Adhama
  2. Sang Hyang Sita
  3. Sang Hyang Nurcahya
  4. Sang Hyang Nurrasa
  5. Sang Hyang Wenang
  6. Sang Hyang Tunggal & Dewi Wardani

Batara generasi awal

Generasi awal ini terlahir dari bagian telur. Menurut R.A. Kosasih, urutannya dimulai dari Ismaya, Antaga, Manikmaya. Hanya kepada Manikmayalah Keturunan berikutnya di teruskan.
  • Sang Hyang Antaga, berasal dari kulit telur. Merasa dirinya lebih penting dari ketiganya, dia beradu ilmu dan sempat kalah. Tidak terima kekalahannya, dia menantang saudaranya beradu ilmu terakhir yaitu menelan gunung tetapi dia gagal dan berakibat dirinya seperti sekarang. Antaga kemudian diberikan nama Togog. Diberikan tugas untuk berada di sisi kejahatan dan mengembalikannya kesisi yang benar.
  • Sang Hyang Manikmaya, berasal dari kuning telur. Yang menjadi pemimpin dan bapak para batara-batara selanjutnya. Gelarnya banyak salah satunya batara Guru.
  • Sang Hyang Ismaya, berasal dari putih telur yang nantinya akan menjadi Semar. Merasa sombong dengan kekuatannya, dia beradu ilmu dengan Antaga dan akhirnya dirinya terkena kutukan menjadi bentuk Semar seperti sekarang.
Walaupun dalam kehidupan nantinya mereka akan berpisah dan mengabdi pada orang yang berbeda, tetapi mereka memiliki satu tugas penting yaitu menjaga keseimbangan dunia. Di masa depan akan banyak muncul ketidakseimbangan dunia seperti ulah Rahwana hingga perang Mahabaratha, tetapi semua itu adalah sebuah proses keseimbangan dunia yang sudah diatur.

 Batara generasi selanjutnya

Keturunan Batara Guru dengan Dewi Uma
  1. Batara Sambu
  2. Batara Bayu
  3. Batara Brahma
  4. Batara Indra
  5. Batara Wisnu
  6. Batara Ganesha
  7. Batara Kala
  8. Anoman
Keturunan Batara Ismaya dengan Senggani

  • Batara Wungkuham
  • Batara Surya
  • Batara Candra
  • Batara Tamburu
  • Batara Siwah
  • Batara Kuwera
  • Batara Yamadipati
  • Batara Kamajaya
  • Batara Mahyanti
  • Batari Darmanastiti

Mahabharata

 Mahabharata (Sansekerta: महाभारत) adalah sebuah karya sastra kuno yang konon ditulis oleh Begawan Byasa atau Vyasa dari India. Buku ini terdiri dari delapan belas kitab, maka dinamakan Astadasaparwa (asta = 8, dasa = 10, parwa = kitab). Namun, ada pula yang meyakini bahwa kisah ini sesungguhnya merupakan kumpulan dari banyak cerita yang semula terpencar-pencar, yang dikumpulkan semenjak abad ke-4 sebelum Masehi.
 Secara singkat, Mahabharata menceritakan kisah konflik para Pandawa lima dengan saudara sepupu mereka sang seratus Korawa, mengenai sengketa hak pemerintahan tanah negara Astina. Puncaknya adalah perang Bharatayuddha di medan Kurusetra dan pertempuran berlangsung selama delapan belas hari.
Selain berisi cerita kepahlawanan (wiracarita), Mahabharata juga mengandung nilai-nilai Hindu, mitologi dan berbagai petunjuk lainnya. Oleh sebab itu kisah Mahabharata ini dianggap suci, teristimewa oleh pemeluk agama Hindu. Kisah yang semula ditulis dalam bahasa Sansekerta ini kemudian disalin dalam berbagai bahasa, terutama mengikuti perkembangan peradaban Hindu pada masa lampau di Asia, termasuk di Asia Tenggara.
 Di Indonesia, salinan berbagai bagian dari Mahabharata, seperti Adiparwa, Wirataparwa, Bhismaparwa dan mungkin juga beberapa parwa yang lain, diketahui telah digubah dalam bentuk prosa bahasa Kawi (Jawa Kuno) semenjak akhir abad ke-10 Masehi. Yakni pada masa pemerintahan raja Dharmawangsa Teguh (991-1016 M) dari Kadiri. Karena sifatnya itu, bentuk prosa ini dikenal juga sebagai sastra parwa.
Yang terlebih populer dalam masa-masa kemudian adalah penggubahan cerita itu dalam bentuk kakawin, yakni puisi lawas dengan metrum India berbahasa Jawa Kuno. Salah satu yang terkenal ialah kakawin Arjunawiwaha (Arjunawiwāha, perkawinan Arjuna) gubahan mpu Kanwa. Karya yang diduga ditulis antara 1028-1035 M ini (Zoetmulder, 1984) dipersembahkan untuk raja Airlangga dari kerajaan Medang Kamulan, menantu raja Dharmawangsa.
 Karya sastra lain yang juga terkenal adalah Kakawin Bharatayuddha, yang digubah oleh mpu Sedah dan belakangan diselesaikan oleh mpu Panuluh (Panaluh). Kakawin ini dipersembahkan bagi Prabu Jayabhaya (1135-1157 M), ditulis pada sekitar akhir masa pemerintahan raja Daha (Kediri) tersebut. Di luar itu, mpu Panuluh juga menulis kakawin Hariwangśa di masa Jayabaya, dan diperkirakan pula menggubah Gaţotkacāśraya di masa raja Kertajaya (1194-1222 M) dari Kediri.
Beberapa kakawin lain turunan Mahabharata yang juga penting untuk disebut, di antaranya adalah Kŗşņāyana (karya mpu Triguna) dan Bhomāntaka (pengarang tak dikenal) keduanya dari zaman kerajaan Kediri, dan Pārthayajña (mpu Tanakung) di akhir zaman Majapahit. Salinan naskah-naskah kuno yang tertulis dalam lembar-lembar daun lontar tersebut juga diketahui tersimpan di Bali.
Di samping itu, mahakarya sastra tersebut juga berkembang dan memberikan inspirasi bagi berbagai bentuk budaya dan seni pengungkapan, terutama di Jawa dan Bali, mulai dari seni patung dan seni ukir (relief) pada candi-candi, seni tari, seni lukis hingga seni pertunjukan seperti wayang kulit dan wayang orang. Di dalam masa yang lebih belakangan, kitab Bharatayuddha telah disalin pula oleh pujangga kraton Surakarta Yasadipura ke dalam bahasa Jawa modern pada sekitar abad ke-18.
Dalam dunia sastera popular Indonesia, cerita Mahabharata juga disajikan melalui bentuk komik yang membuat cerita ini dikenal luas di kalangan awam. Salah satu yang terkenal adalah karya dari R.A. Kosasih.

Versi-versi Mahabharata

 Di India ditemukan dua versi utama Mahabharata dalam bahasa Sansekerta yang agak berbeda satu sama lain. Kedua versi ini disebut dengan istilah "Versi Utara" dan "Versi Selatan". Biasanya versi utara dianggap lebih dekat dengan versi yang tertua.